Header Ads

Ad Home

Kisah Melly Goeslaw yang Tak Bisa Adopsi Anak-anak di Palestina.



Ada kisah yang menarik saat musisi Melly Goeslaw menjalani misi kemanusian ke Kilis, perbatasan antara Turki dan Suriah, untuk memberikan bantuan ke pengungsi Palestina.

Di sana, Melly bertemu dengan dua anak kecil yang membuat dia jatuh cinta. Yang satu adalah seorang bocah perempuan bernama Aminah dan satu lagi bocah laki-laki yang dijuluki Melly sebagai si rambut jamur.



Musisi berusia 43 tahun ini sempat berpikir untuk mengadopsi kedua anak yang dia temui itu. Namun demikian, niatannya itu tidak dapat terwujudkan.

"Karena mereka tidak boleh dipisahkan dari masyarakat Palestinanya sendiri agar trauma healing-nya juga," jelas Melly saat ditemui di kediamannya di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada Minggu (24/12).

Melly melanjutkan, alasan lain anak-anak itu tidak boleh diadopsi karena adanya perbedaan antara pendidikan di Indonesia dengan negara asal mereka. Ia mengutarakan, pendidikan utama yang diberikan kepada anak-anak Palestina itu adalah menghafal Al-Quran.

"Pendidikan yang utamanya banget, pelajaran yang diberikan itu menghafal Al-Quran. Karena, semua orang Indonesia 'kan sekuler, jadi mereka pertahankan terus ya (pendidikan menghafal Al-Quran). Dan karena Palestina itu menjaga Al-Aqsa ya, jadi ya dipertahankan terus," ujarnya.



Pelantun 'Bimbang' ini juga terpana bagaimana anak-anak Palestina itu, tidak menggunakan media sosial sesering masyarakat kota pada umumnya. Anak-anak tersebut hanya menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai kondisi terkini mereka.

"Teman saya yang Nabila itu saja punya medsos, tapi cuma untuk memberikan info saja untuk orang lain. Enggak untuk stalking, atau nonton TV, atau yang lainnya. Enggak ada deh pokoknya media-media itu, enggak ada," katanya.

"Mereka kesehariannya cuma ibadah, isi perut ala kadarnya, sama cita-citanya semua menghafal Al-Quran. Di situ 70 persen anak-anak itu hafal Al-Quran. Ada yang sudah sampai 30 juz, ada yang belum, tapi semua hafal Al-Quran," imbuh Melly.



Kendati demikian, ada hal yang membuat ibu dua anak itu sedih terhadap kondisi anak-anak Palestina. Melly melihat bahwa sorot mata para bocah itu tidak menggambarkan kebahagian lagi, yang ada hanyalah ekspresi hampa.

Anak-anak Palestina itu bahkan tidak bisa diajak bicara karena mengalami trauma. Sehingga, Melly tidak mendapatkan cerita dari anak-anak yang dia kunjungi.

"Pas kita masuk ke dekat kantornya itu lebih parah, mereka benar-benar enggak mau disamperin gitu. Ketika ada orang asing, mereka sembunyi ke dekat tempat sampah, tempat apapun yang bisa mereka sembunyi," tutur Melly.


[kumparan.com]

Diberdayakan oleh Blogger.